Ibu…
Aku lebih suka memanggilmu ibu. Bukan
mama, mami, bunda, umi atau sebutan lain yang bermakna sama. Kata ibu
lebih mulia dan mempunyai makna yang lebih dibandingkan yang lainnya.
Bagiku, ibu adalah sosok yang sederhana dan penuh perjuangan. Ibu adalah
panutan sekaligus sahabat terdekat, yang dengannnya aku tidak ragu
untuk bercerita dan berbagi rahasia kecil. Ibu adalah kebanggaanku,
cintaku, cahaya dan kebahagiaanku. Kasih sayangnya bagai pendar-pendar
cahaya yang tak pernah redup yang senantiasa menyinari hatiku dan
saudaraku yang lain. Cahaya yang membuat kami hangat dan tak pernah
merasa sendirian, karena ada ibu yang menemani setiap langkah dalam
menapaki jejak hidup ini.
Ibu…
Kata
yang ingin senantiasa kuucapkan adalah kata maaf dan terimakasih atas
segalanya. Maaf, karena begitu banyak kesalahan yang kulakukan selama
ini. Begitu banyak hal yang sudah kulakukan dan membuatmu kecewa. Namun,
tak ada nada marah dan menghakimi seperti yang kuduga. “ Tak apa, besok
pasti bisa lebih baik lagi” ucapmu dengan sepenuh hati. Terimakasih Bu,
atas semua kasih sayang, doa yang senantiasa kau panjatkan dalam setiap
sholat dan sujudmu. Terimakasih atas kesabaran dan persahabatan yang
tulus yang ada. Bagiku, ibu lebih dari sekedar ibu. Ibu adalah sahabat
terdekat, dimana aku bisa menceritakan segala yang terjadi di hidupku
tanpa aku merasa dihakimi, namun dihargai sebagai seorang sahabat dan
anak.
Ibu…
Tahun-tahun yang sulit
setelah sepeninggal Bapak adalah tahun yang berat bagi kita semua.
Seakan kehilangan cahaya kebahagiaan, kita tak lagi mempunyai arah dalam
hidup. Gurat kesedihan tergambar jelas di wajah ibu. Airmata kesedihan
seakan tak mau pergi mengiringi kepergian bapak dalam usia yang relatif
muda dan dengan lima anak yang masih membutuhkan kasih sayang. Ibu,
terasa bagi kami kesulitan dan deritamu, namun tak kau tampakkan. Tak
terbayangkan perjuangan ibu membesarkan lima anak sendirian tanpa
seorang Bapak disisi ibu.
Ibu…
Engkau
begitu tegar, menghadapi semuanya. Menghapus airmata kesedihan dan
tabahkan diri dengan melihat anak-anakmu yang masih kecil. “ Kekuatan
ibu ada pada kalian, ibu akan berusaha membahagiakan kalian semampu ibu.
Ibu menderita tak apa, asal kalian bahagia” ucapmu tulus. Mungkin, dulu
sewaktu aku kecil, tak mengerti apa makna kalimat itu, yang ibu ucapkan
sepeninggal bapak. Tapi bertahun-tahun kemudian, aku memahaminya dengan
segala tindakan, kasih sayang dan pengorbanan yang senantiasa membuatku
bangga. Bangga menjadi anak yang Allah takdirkan berada di samping ibu
dan merasakan kasih sayang yang begitu besar. Meski hidup tanpa kasih
sayang bapak, aku tak pernah merasa kekurangan kasih sayang dan sedih
karena ada ibu disampingku.
Ibu…
Tak
akan kulupakan nasehatmu selalu,”Belajarlah dengan baik nur, supaya
jadi orang pintar dan bisa jadi orang sukses. Ibu akan selalu
mendoakanmu, supaya bisa hidup bahagia lebih dari waktu sekarang” . Ah,
Ibu seandainya ibu tahu. Tahun-tahun yang aku lewatkan bersama ibu
adalah waktu yang membahagiakan, ibu tak pernah mengeluh dan memarahi
dengan keras. Sebaliknya ibu mengajarkan kesabaran dan kemandirian pada
anak-anaknya. Jangan mudah bergantung pada orang lain dan berusahalah
sebaik mungkin, karena Allah menghargai setiap perjuangan manusia yang
mau berusaha bukan meminta dan berdiam diri saja.
Ibu…
Dalam
setiap detik yang kulewatkan sekarang, tak hentinya aku mengucap syukur
kepada Allah. Bersyukur karena dianugerahi Allah, ibu yang baik dan
penuh perjuangan. Pun, ketika banyak teman-temanku yang putus sekolah
karena kesulitan biaya walau mempunyai keluarga yang utuh. Ibu tak
menyerah begitu saja, terus saja mencari cara dan berjuang agar kami
semua dapat merasakan pendidikan yang baik walaupun tak lagi mempunyai
bapak. “Kalian semua tidak boleh berkecil hati, walau tidak punya bapak.
Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh dan mengejar cita-cita
dengan segenap kemampuan kalian. Kalian harus punya pendidikan yang
bagus, karena ibu tak bisa memberi bekal harta, yang bisa ibu berikan
tidak lain adalah ilmu yang kalian miliki”. Ibu itulah penyemangat kami
selama ini, penyemangat saat rasa putus asa mendera dan tak jua habis
ketika banyak masalah datang. Namun, kami senantiasa mengingatnya hingga
tak ingin ada kesedihan di wajah ibu. Kami hanya ingin memberikan
seulas senyum kebahagiaan walaupun hanya lewat prestasi kecil yang kami
ukir. Seulas senyum yang membuat kami pun bahagia, karena bisa membuat
ibu bangga.
Ibu…
Masa, telah
bergerak jauh dan kini terpisah jarak yang membentang. Sebagian harapan
dan perjuanganmu hampir tergapai. Seperti yang ibu inginkan, kini aku
berhasil menempuh pendidikan di universitas. Walau dengan penuh
perjuangan yang tidaklah mudah. Namun, semua kesulitan seakan tak
berarti jika mengingat perjuangan ibu selama ini. “ Nduk, cah ayu. Kalau
ingin berhasil harus berani tirakat, hidup prihatin tidak apa-apa jika
harus dilakukan, karena kita bukan orang yang kaya. Banyaklah berpuasa,
sholat malam dan memohon pada Allah supaya jalannya dimudahkan. Insya
allah, allah akan mengijabah doa kita”.
Ibu…
Terkadang,
aku merasa malu pada diri sendiri. Karena tidak bisa tegar dan sabar
seperti ibu. Mudah putus asa dan menyerah di saat masa-masa yang sulit
ada, tapi ibu selalu memberikan semangat dan perhatian yang memberiku
kekuatan dalam setiap langkah yang kuayunkan. Aku juga begitu malu,
karena walau aku bisa mengenyam pendidikan dan pengetahuan yang lebih
dari ibu. Namun, ibu mempunyai pemikiran dan harapan hidup yang tak
pernah redup. Harapan melihat anak-anaknya bahagia, menguatkannya.
Keyakinan pada rahmat Allah juga lebih besar walau tak mempunyai
pengetahuan yang mendalam tentang agama. Namun, pemahaman dan keyakinan
ibu membuatku tak henti belajar dan berjuang untuk menggapai semua yang
pernah menjadi mimpi walau itu sulit. Semua itu kami lakukan demi
kebahagiaan ibu dan seulas senyum yang semoga saja dapat menjadi penawar
kesedihan, pengorbanan walau sedikit.
Ibu…
Terimakasih
untuk semua yang telah ibu berikan pada anak-anakmu. Maafkan kami yang
belum mampu membahagiakan ibu dengan semestinya. Tapi percayalah Bu,
kami akan berusaha semampu kami agar suatu saat ibu dapat bangga karena
mempunyai anak-anak seperti kami. Hanya ridho dan doa ibu yang
senantiasa kami harapkan dan semoga Allah juga meridhoi setiap yang kami
lakukan hingga bisa membahagiakan ibu.
Terimakasih dan syukur
yang tak terhingga pada Allah yang telah memberikan seorang ibu yang
begitu baik, sabar dan tegar hingga kami tidak pernah merasakan
kekurangan kasih sayang walau dibesarkan tanpa kehadiran Bapak disisi
kami. Hanya doa yang yang kami panjatkan pada Ibu, semoga Allah mencatat
semua amal kebaikan ibu selama ini sebagai pahala bagi ibu. Amien
Tidak ada komentar:
Posting Komentar